IEC, Los Angeles IEC, Sacramento IEC, San Francisco IEC, San Jose IEC, San Diego Sinode Home Page
Choose Category
if you'd like to submit articles please forward them to iec_web@gii-usa.org
Categories:
  1. Recent Articles
  2. About Love
  3. Agape Article
  4. Apologetics
  5. Bible Study (Galatia)
  6. Biography
  7. Book Resensi
  8. Christian Ethics
  9. Christian Humor
  10. Christian Life
  11. Family
  12. Leadership
  13. Mission Testimony
  14. Refleksion
  15. Social Issues
  16. Testimony
  17. The Superman Shepherds
  18. World Religion
EMSI Online
dots
ornate
heading_articles
Articles Book Resensi
Judul Buku : DIBALIK TOPENG ORANG PERCAYA
Author: Penulis Resensi : Job Palar (Wartawan Harian Sinar Harapan)
Posted on: 2007-05-03 13:43:21
Memerangi Kemunafikan di Rumah Tuhan

Oleh
Job Palar

Jika sebuah kritik memang harus dibela, mungkin yang paling sulit adalah melakukan pembelaan atas kritik yang muncul dari diri sendiri, otokritik. Namun, mengkritik diri sendiri juga adalah perbuatan yang sangat sulit dan jarang kita lakukan. Penyesalan barangkali bisa datang kapan saja, tapi itu beda dengan kritik atas diri sendiri. Kita biasanya lebih pandai mengkritik orang lain dengan berbagai fakta dan data yang mungkin kita sendiri tak mengira bisa sedemikian komprehensifnya.

Sebaliknya jika orang lain yang mengkritik, yang terjadi hanyalah hati kita yang berbuncah-buncah, kacau-balau tak karuan menuntut "perlakuan adil" terhadap orang tersebut. Kritik bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Saat kita bekerja, kritik akan datang dari rekan sekantor, atasan, bawahan, dll. Saat bergaul, kritik akan muncul dari kawan-kawan kita. Kritik bisa bermakna apa saja, entah itu sebagai kritik yang membuat kita lebih baik lagi, atau malah membuat kita menjadi tak semangat lagi melakukan sesuatu.

Kritik juga bisa muncul dalam kehidupan keagamaan kita. Kegiatan keagamaan tentunya bersifat pribadi, karena itu menyangkut hubungan kita dengan Dia yang di atas. Namun, tidak selalu pelaksanaannya bersifat privat. Ada kalanya kita akan melaksanakannya dengan berjemaah atau bersama-sama dengan orang lain. Di sinilah masalah biasanya muncul, dan buku ini menggambarkan berbagai masalah itu. Bagi umat kristiani beribadah dengan cara berjemaah itu lazim dilakukan di gedung gereja.

Kekristenan tentu erat dengan gereja. Gereja di sini bisa dilihat sebagai sebuah organisasi untuk beribadah, bersekutu dengan Tuhan. Gereja juga bisa berupa status yang melekat di diri umat Kristiani. Sebuah lagu kanak-kanak melukiskannya dengan syair sebagai berikut: Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya. Gereja adalah orangnya.

Di dalam organisasi gereja inilah, masalah biasanya muncul, entah karena interaksi antarjemaat, atau bisa juga karena individu tertentu. Bahkan karena faktor finansial. Bagi orang-orang yang "berjarak" dengan gereja barangkali akan merasa lucu jika mengetahui bahwa dalam gereja pun banyak hal yang lumrah terjadi di dalam organisasi umum. Namun, itulah yang terjadi. Banyak hal terjadi bukan karena faktor "kedekatan dengan Tuhan" tapi karena faktor ego yang terlalu tinggi, pergunjingan, bahkan keserakahan.

Judul buku Di Balik Topeng Orang Percaya sudah menandakan betapa kerasnya kritik yang diberikan si penulis buku ini terhadap kehidupan bergereja kebanyakan. Sulit juga rasanya membantah isi buku ini, karena sang penulis adalah juga seorang pendeta dan melayani sebuah gereja. Saumiman Saud, sang penulis, saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia di San Jose, California, USA.

Jika pembaca menilik ke Daftar Isi dari buku ini, terpampang berbagai permasalahan itu. "Kebiasaan Sombong di Gereja", "Kebiasaan Pelit di Gereja", "Kebiasaan Mengata-ngatai Pendeta", "Kebiasaan Menolak Pelayanan" adalah beberapa bab yang sangat keras menegur pembaca. Jika ditinjau lebih cermat, "kebiasaan-kebiasaan" ini memang tak beda jauh dengan "kebiasaan" yang muncul di organisasi secara umum. Permasalahannya, "kebiasaan" ini jika dibiarkan jelas berdampak dalam hubungan jemaat dengan Tuhannya, dan ini beda dengan organisasi biasa. Ada ironi yang dicoba untuk dibeberkan tanpa tedeng aling-aling oleh Saumiman. Topik "Kebiasaan Malas Baca Alkitab" memang terdengar ironis. Sebab ke gereja tanpa mau membaca Alkitab tentu bukan pilihan yang bagus.

"Kebiasaan" ini dijabarkan penulis bukan muncul begitu saja, tapi ada latar belakangnya. Inilah yang dianggap sebagai sebuah topeng yang menutupi wajah umat. Kesimpulan atas buku ini adalah kemunafikan merupakan hal yang harus diperangi habis-habisan. Kemunafikan selain mengganggu hubungan antarmanusia, juga akan membuat ibadah menjadi sia-sia. Lebih parah lagi, kemunafikan satu orang akan menjadi sandungan buat orang lain.

Buku ini jelas sebuah kritik. Namun buku ini tentu tak bisa menyentuh kepentingan setiap pembacanya. Jika si pembaca orang Kristen Tanpa Pertobatan alias "Kristen KTP", bisa ada dua opsi. Dia mungkin akan tertawa-tawa, atau mungkin justru bisa jadi terpanggil menjadi Kristen yang benar.

Jika si pembaca adalah nonkristiani, barangkali buku ini bisa menjadi tolok ukur tingkat keimanannya. Setidaknya buku ini menjadi sandaran bahwa dalam beribadah tak ada tempat untuk kepura-puraan. n

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0609/23/opi05.html

Copyright Sinar Harapan 2003
Resources
 
triangle Article

triangle Agape