 |
 |
|
 |
 |
|
ASYIK BERCINTA!
Jelas sekali kalau kita sebut Asyik Bercinta, konotasinya negatif, dan hasilnya juga biasanya negatif. Memang kadang kita juga bingung, di jaman modern seperti ini, ada orang yang tidak ada waktu berpacaran karena pekerjaannya menumpuk, sehingga terlihat, ada orang yang berumur kepala tigapun, masih belum niat berpacaran.
Banyak alasan yang diutarakan ketika ditatanya kenapa masih belum berpacaran. Bagi yang cowok pada umumnya merka katakan belum siap, belum memiliki rumah sendiri,. Pekerjaan masih tidak tetap, gaji masih belum memuaskan, masih ada tanggung jawab terhadap orang tua. Sedangkan bagi yang wanita pada umumnya mereka menjawab, lebih bebas bergerak kalau jomblo, mau pergi ke mana saja tidak ada yang pantau, kalau punya pacar tidak bebas lagi; apalagi ketemu yang pencemburu.
Sebenarnya bagi mereka sendiri tidak soal kalau belum punya pacar, namun yang merasa kuatir adalah orang tua mereka. Itu sebabnya apabila ketemu, selaian bahan pembicaraan yang lain, maka salah satu topik yang selalau dibahasa adalah mengenai pernikahan.
Beberapa bulan yang lalu ada seorang pemudi mengeluh kita sebut saja Jenny, beliau katakan Jenny stress kalau telepon ke Indonesia, khususnya ketika berkomunikasi dengan orang tua. Saya bertanya kenapa? Ia mengatakan, setiap telepon ke Indonesia, orang tua selalu bertanya kapan menikah. Sebenarnya Jenny bukan tidak mau menikah katanya, yang menjadi masalah orang yang hendak menikah dengan saya belum ada?
Ironisnya saya juga sering bertemu dengan mereka yang masih muda belia sudah menjalani pacaran. Orang tuanya membayar mahal supaya mereka kuliah, namun belum satu Semester sudah punya pacar. Mereka yang sekolah di Luar Negeri atau yang jauh dari orang tua memiliki kebebasan penuh berpacaran, pantauan orang tua terbatas sekali. Bayangkan saja, apa yang hendak mereka lakukan dan kerjakan tidak ada yang yang melarangnya.
Bagi anak muda yang tinggal bersama orang tuanya, masih ada “security atau ranjau” yang harus dihadapi. Apabila mengajak pasangannya ke luar, masih harus minta ijin pada orang tuanya, kemudian sewaktu pulang tidak berani jauh malam. Nah kalau mereka di negeri orang atau indekos, tentu tidak ada yang melarangnya. Bila perlu sekalian menginap tidak perlu pulang lagi, tidak ada yang melarang dan tidak ada yang mengurusnya!.
Berpacaran semestinya merupakan sarana posistip untuk mendorong dan berpacuh supaya lebih giat belajar, namun ada di atara mereka yang lupa akan hal ini ,sehingga gara-gara berpacaran nilainya jeblok berantakan semua, sudah itu kadang uang makan dan biaya kost terpakai habis.
Pacaran yang terlalu dini sudah tentu mengganggu konsentrasi di dalam belajar mereka, karena pacaran sendiri penuh dengan persoalan yang rumit. Di situlah letak segala-galanya, mulai dari cinta, senyum, tertawa, senang, bahagia, hingga menangis, marah, stress, cemburu, dendam, .depresi, nyaris bunuh diri dan sebagainya.
Pelajaran di kampus sudah begitu rumit, ditambah lagi kerumitan berpacaran tentu sedikit banyak mengganggu aktifitas belajar. Belum lagi kalau mereka yang Asyik berpacaran lalu melupakan teman, dan juga Tuhan, sehingga belum apa-apa terjadi hal yang tidak diinginkan dan mereka harus menikah, padahal kuliahnya masih tahun ke dua. Kalau demikian sudah tentu mereka harus meninggalkan kuliah, lalu si cowok harus mencari pekerjaan. Beruntunglah kalau orang tua memiliki perusahaan sendiri, sehingga kejadian ini masih tidak begitu sulit dipecahkan. Namun inikah masa depan kaum muda yang diharapkan? Tentu tidak bukan!
SIapa saja anda cowok maupun cewek mesti sadar, bahwa hidup kita bukan pacaran melulu, karena ada banyak tugas di dalam kehidupan ini mesti kita jalankan.. Bila kebetulan anda berpacaran kemudian lupa diri, maka perlu waspada. Salah satu di antaranya mesti harus sensitif untuk memberikan peringatan, supaya kesalahan ini diperbaiki, memang tidak gampang tetapi harus kita lakukan. Semoga!!
|
|
|
|
|
 |
|
 |
 |