{"id":919,"date":"2017-07-06T22:32:38","date_gmt":"2017-07-06T22:32:38","guid":{"rendered":"http:\/\/www.gii-usa.org\/san\/?p=919"},"modified":"2017-07-06T22:32:38","modified_gmt":"2017-07-06T22:32:38","slug":"teknologi-cara-modern-menyia-nyiakan-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/2017\/07\/teknologi-cara-modern-menyia-nyiakan-waktu\/","title":{"rendered":"Teknologi: Cara Modern Menyia-nyiakan Waktu?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>TEKNOLOGI: CARA MODERN MENYIA-NYIAKAN WAKTU?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>\u00a0<\/strong>Kalvin Budiman<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201c<em>dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat\u201d<\/em> (Efesus 5:16)<\/p>\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Teknologi dibuat untuk membantu manusia.\u00a0 Teknologi bukan tuan.\u00a0 Teknologi hanyalah alat untuk membuat hidup menjadi lebih mudah. Tapi sekarang teknologi sudah menjadi seperti tuan buat kebanyakan orang.\u00a0 Banyak orang \u201cmempersembahkan\u201d dan \u201cmenyerahkan\u201d waktu mereka untuk melayani teknologi untuk hal-hal yang hampir sama sekali tidak ada nilainnya.<\/p>\n<p>Teknologi tidak salah.\u00a0 Dan saya juga tidak anti teknologi.\u00a0 Saya hanya mau mengajak kita untuk menempatkan teknologi sesuai fungsinya, yaitu sebagai alat bantu, dan bukan sebagai tuan.\u00a0 Kemajuan teknologi adalah sebuah fenomena modern yang patut kita kagumi.\u00a0 Tapi pertanyaan yang lebih dalam yang setiap kita harus tanyakan adalah: apakah kemajuan teknologi yang kita pakai tersebut dapat menolong untuk meningkatkan nilai dan makna hidup kita? \u00a0Misalnya, salah satu bentuk kemajuan teknologi yang paling mengagumkan adalah teknologi komunikasi. \u00a0Pertanyaannya buat setiap kita adalah: apakah kemajuan teknologi komunikasi tersebut membantu kita untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan hubungan kita dengan teman, dengan suami atau istri, dengan anggota keluarga dan dengan orang lain?<\/p>\n<p>Saya semakin sering mendengar suami-suami atau istri-istri mengeluh karena pasangan mereka lebih punya banyak waktu dengan <em>smartphone<\/em>-nya daripada dengan mereka. \u00a0Dulu ada lagu sekolah minggu yang kata-katanya berbunyi demikian: \u201cApa yang dicari orang? \u00a0Uang!\u00a0 Siang, malam, pagi, petang, uang, uang, uang, bukan Tuhan Yesus.\u201d\u00a0 Sekarang barangkali tidak salah kalau siang, malam, pagi, petang, kebanyakan orang cari <em>smartphone<\/em>-nya.\u00a0 Dan banyak waktu terbuang karena <em>smartphone<\/em>.<\/p>\n<p>Ada seorang teman yang pernah berkata kepada saya bahwa sejak memiliki <em>smartphone<\/em>, ia punya kebiasaan baru.\u00a0 Paling tidak seminggu sekali (kadang dua kali), ia harus membuat jadwal untuk membersihkan <em>smartphone<\/em>-nya dari foto-foto yang sudah tidak perlu lagi, dari percakapan di <em>whatsapp<\/em> yang sudah tidak dibaca lagi, file-file yang sudah tidak perlu, game-game yang perlu di-<em>maintained<\/em> atau dihapus, dan sebagainya.\u00a0 Tanpa sadar, menurut pengakuannya sendiri, kadang-kadang dua jam lewat hanya untuk \u201cme-<em>manage<\/em>\u201d <em>smartphone<\/em>-nya.\u00a0 Sesudah lelah me-<em>manage<\/em> <em>smartphone-<\/em>nya, apa yang ia lakukan?\u00a0 Teman saya dengan jujur berkata, sesudah itu maunya main game, <em>chat<\/em> sama teman<em>, update<\/em> facebook, <em>update <\/em>Instagram, atau sekedar <em>browsing<\/em> dan nonton <em>video clips<\/em>! \u00a0Seringkali dua-tiga jam lewat begitu saja dalam satu hari tanpa menghasilkan sesuatu yang betul-betul bermakna dan bernilai.\u00a0 Kadang ia menyesali hari-hari yang lewat begitu saja, tapi ia juga tidak berdaya melawan \u201crasa ketagihan\u201d untuk menikmati kemajuan teknologi yang ada di genggaman tangannya.<\/p>\n<p>Belum lagi persoalan-persoalan baru antara orangtua dan anak karena perhatian anak sekarang ini lebih banyak tertuju pada teknologi.\u00a0 Tidak jarang saya mendengar orangtua yang mengeluh karena anaknya sepanjang hari hanya di depan komputer atau asyik dengan <em>gadget<\/em> di tangannya.\u00a0 Semakin banyak juga orangtua yang mengeluh karena sekarang anak-anaknya susah mendengarkan kata-kata orangtua dan lebih memilih mendengar nasihat-nasihat dari <em>internet<\/em>.\u00a0 Banyak orangtua yang sadar bahwa teknologi itu baik dan tidak salah.\u00a0 Tapi banyak juga yang merasa tidak berdaya dengan perubahan-perubahan dan pengaruh negatif yang mereka lihat pada anak-anak mereka akibat terlalu asyik dengan teknologi.<\/p>\n<p>Bagaimana cara mengatasinya?\u00a0 Solusi sederhana yang Alkitab tawarkan adalah: ingat waktu.\u00a0 Kita harus memiliki kesadaran tentang pentingnya waktu.\u00a0 Paulus mengingatkan bahwa waktu adalah hal yang \u201cjahat,\u201d maksudnya: tidak bersahabat dan tidak dapat kita kontrol. \u00a0Waktu akan terus berjalan.\u00a0 Waktu yang sudah lewat tidak akan kembali.\u00a0 Waktu adalah titipan dari Tuhan yang harus kita pakai dengan bertanggung jawab.\u00a0 Waktu-waktu kehidupan kita harus diisi dengan hal-hal yang bernilai.\u00a0 Teknologi seharusnya menjadi alat bantu yang dapat menolong kita mengatur waktu dengan lebih efektif dan efisien, dan bukan sebaliknya menjadi tuan yang memperhamba kita dan malah membuat kita digilas oleh waktu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TEKNOLOGI: CARA MODERN MENYIA-NYIAKAN WAKTU? \u00a0Kalvin Budiman &nbsp; \u201cdan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat\u201d (Efesus 5:16) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Teknologi dibuat untuk membantu manusia.\u00a0 Teknologi bukan tuan.\u00a0 Teknologi hanyalah alat untuk membuat hidup menjadi lebih mudah. Tapi sekarang teknologi sudah menjadi seperti tuan buat kebanyakan orang.\u00a0 Banyak orang \u201cmempersembahkan\u201d dan \u201cmenyerahkan\u201d waktu mereka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_links_to":"","_links_to_target":""},"categories":[3,55],"tags":[],"class_list":["post-919","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles","category-social-issues"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=919"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/919\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":920,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/919\/revisions\/920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gii-usa.org\/san\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}