No comments yet

Ayah yang Saleh

Yosua 24: 14-15 “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

 

Ada seorang bapak yang datang kepada saya. Bapak ini seorang majelis gereja dan juga seorang businessman. Dia berkata bahwa dia berjuang mati2an untuk keluarganya sehingga dia bisa memberikan rumah yang besar dan juga simpanan uang yang banyak buat keluarga dan masa depananaknya. Tetapi dia tidak mengerti mengapa anak dan istrinya tidak pernah puas dengan apa yang dia telah kerjakan untuk mereka.

Saya tidak tahu banyak mengenai kehidupan pribadi mereka tetapi satu hal saya tanya kepada bapak tersebut “Pernahkah kamu meluangkan waktu bersama istri dan anakmu untuk berdoa bersama dan membaca Firman Tuhan sama2?” Lalu dia bilang bahwa dia sangat sibuk untuk bisnis-nya dan tentunya tidak ada waktu untuk itu semua. Bukankah dia sibukpun untuk kebaikan dan keperluan mereka?! Nah, dari sini saya melihat ada problem dengan bapak ini. Dia pikir dia sudah melakukan tanggung jawab sebagai ayah dengan memberikan tempat tinggal, makanan, dan edukasi. Itu cukup menurut dia. Apakah benar saudara? Bukankah prinsip ini juga ada pada orang Atheist yang tidak mengenal Allah? Bukankah hal ini adalah suatu hal yang umum? Jadi, bagaimanakah type seorang ayah yang kristiani?

Di dalam Yosua 24: 14-15, Yosua sudah tua pada waktu itu dan bangsa Israel sudah banyak yang menyeleweng dari Allah. Ayat ini adalah suatu konsep dimana Yosua membawa kembali bangsa Israel kepada Tuhan dengan memberikan ketegasan bahwa “Aku dan seisi rumahku kami akan beribadah kepada TUHAN!”-hal ini membuktikan bahwa Yosua mempunyai hidup yang transparent di hadapan Allah.

 

1. Yosua mengambil peranan sebagai pemimpin di dalam keluarganya.

Dia bukan hanya memberikan makanan/minumnan/tempat tinggal untuk keluarganya. Tetapi dia juga berjalan di depan sehingga istri dan anak2nya mengikutinya di belakang. Ada pepatah:
“Seorang anak akan mengasihi ibunya tetapi dia akan mengikuti jejak ayahnya”. Jadi kalo mau liat anaknya bakal kayak apa, liat dulu bapaknya bagaimana. Oleh sebab itu, sebagai kepala keluarga harus takut akan Tuhan supaya anak2nya juga menjadi anak yang takut akan Tuhan. Ayah sebagai role model anak2nya.

Saya mengenal ada suatu keluarga yang begitu cinta Tuhan. Mereka suka sekali mengundang saya untuk tinggal di rumah mereka. Bapak dan ibu tersebut selalu ada keinginan untuk lebih mendalam mengenai Firman Tuhan. Setiap kali berbincang bincang dengan mereka, mereka selalu antusias berbicara mengenai Firman Tuhan. Dan saya melihat mereka selalu ada waktu dengan anak2nya untuk sharing dan berdoa bersama. Bahkan anaknya yang pertama, ketika ada pemuda yang mendekati dia, dia dengan terbuka sharing kepada orang tuanya. Nah, orang tuanya juga bisa mengarahkan kepada dia bagaimana mencari kehendak Tuhan. Sampai dia benar2 berdoa berpuasa melakukan hal tersebut. Anak ini bercita2 menjadi dokter, dan anak yang kedua mau jadi missionary. Ini saudara contoh dari suami istri yang mempersembahkan keluarganya menjadi mezbah Tuhan.

“Aku dan seisi rumahku kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Beribadah bukan bersifat rutinitas tiap hari minggu datang ke gereja, tiap hari sabtu ikut persekutuan, dan kegiatan2 yang lainnya. Beribadah di sini berarti seseorang yang menaklukan dirinya sebagai budak dan Tuhan sebagai pemimpinnya. Seisi keluarga hidup dalam rencana Tuhan sesuai dengan pola pikir Tuhan. Beranikah bapak2 berkata kepada anak istri: “Ikutlah aku karena aku ikut Tuhan! Lihat imanku di saat aku mengalami kesusahan!”. Ada 2 Contoh ayah yang gagal di Alkitab:

a. Imam Eli: Allah memanggil Eli untuk melayani Dia tetapi sayang Eli tidak bisa mendidik anak2nya. Dia mempunyai anak2 yang durhaka yang tidak menghormati Allah. Allah menegur Eli tetapi sayang Eli lebih mementingkan anaknya daripada Allah, sehingga akhirnya Allah yang menghakimi seisi keluarganya. Imam Eli dan anak2nya mati. Imam Eli sebagai spiritual leader tetapi tidak bisa menjadi contoh dan mendidik anak2nya.

b. Nabi Samuel: Nabi Samuel adalah seorang nabi yang diperkenan oleh Allah. TEtapi anak2 Samuel hidup dalam korupsi dan hidup untuk diri sendiri. Samuel telah mengajar anak2nya tetapi anak2nya tidak nurut. Lalu gimana? Ingat manusia tidak bisa mengubah manusia. Hanya Tuhan yang mampu mengubah hati anak2 kita. Di sini kita harus belajar, jika nabi Samuel yang hidup diperkenan oleh Allah pun gagal menjadi seorang ayah, bagaimana kita mengajar anak? Pernahkah anda merenung bila anda meninggal kira2 apa yang anak2 bisa sharingkan pada orang lain mengenai kita? Apakah bakal seperti ini: Oh papa saya adalah seorang yang kaya tetapi suka menipu atau papa saya adalah orang yang kasar atau papa saya adalah orang yang cinta Tuhan? Atau malah anak2 tidak mempunyai apa2 untuk disharingkan karena tidak pernah merasakan kedekatan dengan ayahnya?

Tahun 1998 saya di Amerika. Saya kenal satu keluarga yang membuat hati saya susah tiap kali ketemu keluarga ini. Kalau datang ke gereja selalu telatnya tidak tanggung2 40 menit setelah kotbah dimulai dan pulang 10 menit lebih cepat sebelum Doxology. Kemudian saya pulang Indonesia, dan kembali pada tahun 2008. 10 tahun telah lewat dan ketika saya kembali ke gereja tersebut bertemu dengan keluarga ini. Ternyata masih tetap sama. Anak2nya kalo dulu masih Sunday School datang selalu telat setelah guru sekolah minggu bercerita, sekarang mereka remaja, masih tetap saja telatnya. Tidak ada perubahan di dalam diri mereka. Saya kalo liat mereka saya sedih sekali.

Anak saya sudah teenager dan sekarang melayani main piano di GII San Diego. Walaupun mainnya tidak bagus tetapi saya senang. Suatu hari pas dia ada schedule main piano di gereja bersamaan dia juga ada test di sekolahnya. Dia tanya saya bagaimana kalo bisa kali ini saya tidak main piano di gereja minta diganti orang lain. Saya bilang ke dia bukannya schedule main piano udah ada dari dulu dan juga schedule test di sekolah kamu juga tau dari dulu? Coba kamu doa dulu sama Tuhan lalu nanti kasih tau papa keputusanmu. Kemudian setelah dia doa, dia bilang sama saya dia putuskan untuk tetap main piano di gereja. Dan saya bilang ke dia kalo gitu kamu harus commit extra time untuk belajar. Jangan karena pelayanan main piano lalu tidak belajar sehingga test dapat jelek karena menjadi pianist itu melayani dan belajar itu juga melayani. Dua-dua sama adalah pelayanan. Kemudian saya share dengan dia cerita pelayanan saya. Memang inilah kenyataan hidup. Pelayanan harus bayar harga. Dari sana dia mengerti apa itu melayani. Sebagai seorang pemimpin keluarga harus bisa membawa seisi keluarganya menjadi satu.
Jangan beri anak2mu kepintaran tok. Jika anak2mu pintar tetapi tidak ada iman itu lebih bahaya karena mereka bisa jadi jahat memakai kepintaran untuk melawan Tuhan.

 

2. Yosua berperan sebagai imam di dalam keluarganya.

Perbedaan imam dan nabi adalah tugas Imam – membawa manusia kepada Tuhan dan tugas Nabi – membawa Tuhan kepada manusia.

Yosua menjalankan tugasnya sebagai seorang imam di dalam keluarganya karena dia:

a. Mengajarkan Firman Tuhan kepada keluarganya dan berdoa bagi keluarganya.
Amsal 2:1 “Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu”
Amsal 4:1 “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian”
Ulangan 6:5-9 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”

Musa mengkaitkan 2 hal yaitu kasih dan ajaran. Jika kau mengasihi Tuhan kau pasti mendidik anak2mu. Di dalam kasih selalu ada unsur didikan dan sebaliknya setiap kali kita mendidik pasti kita ada unsur kasih.

b. Berdoa bagi keluarganya
Ayub adalah seorang yang jujur dan saleh dihadapan Allah. Setiap kali anak2nya berpesta pora, dia berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni anak2nya. Dengan doa2nya dia telah melayani keluarganya. Kita juga harus berdoa secara consistent untuk setiap individu dalam keluarga kita. Jika kita cuman mengandalkan pengajaran saja, maka itu akan menjadi head-knowledge doang (bahaya nanti jadi seperti orang farisi- legalistic). Kalau kita cuman mengandalkan doa saja, kita ada hati tetapi tidak mengenal dengan dalam keberanan Firman Tuhan. Kita tidak bisa mengajar kebenaran kepada orang lain.

Saudara2, seringkali kita gagal menjalankan peranan ini. Seorang ayah adalah pilar penopang bagi keluarganya. Oleh sebab itu dia harus mempunyai hati yang cinta Tuhan dan iman y ang kuat. Dengan kekuatan rohani kita berjalan di depan lalu anak istri ikut dibelakang kita. Ingat bahwa keluarga adalah perjanjian dengan Allah.

 

Saudara2, engkau dan saya belajar dari Yosua, sejak muda telah berkomitment kepada Tuhan. Jika kita jalankan peranan kita, kitapun akan dikasihi oleh anak2 kita dan mereka juga akan mengerti bahwa mereka hidup untuk Tuhan. Dengan demikian keluarga kita akan diberkati oleh Tuhan.

Jonathan Edward adalah seorang hamba Tuhan yang takut akan Tuhan. Dia bawa seluruh keluarganya kepada Tuhan. Ada orang yang membikin reseach mengenai silsilah dari Jonathan Edward vs seseorang yang hidup pada jaman Jonathan Edward yang saya lupa namanya. Keturunan dari Jonathan Edward ini menjadi berkat buat masyarakat, ada yang menjadi dokter, lawyer, bahkan salah satu committee dalam US presidency. Kontras dengan kehidupan orang yang satunya dimana orang ini suka mabuk2an, hidup tidak memuliakan Tuhan, akhirnya setelah ditelusuri keturunannya juga menjadi sampah masyarakat seperti homeless, perampok, pelacur dan sebagainya.

Oleh sebab itu saudara2, mari kita mulai sekarang membina keluarga kita dengan fondasi yang kuat untuk mempersembahkan mezbah keluarga untuk Tuhan. Maka keturunan kita akan diberkati oleh Tuhan juga. All glory belongs to Him.

Comments are closed.